Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2019

Di antara ajaran sentral tasawuf adalah zuhud dan qana’ah (menerima apa adanya; neriman). Dua sikap ini fardhu ain (wajib) dimiliki oleh seseorang. Apabila tidak mampu memiliki dua laku mulia ini, dia wajib belajar tasawuf atau apa pun yang bisa mengajarkan dua laku ini (serta laku batin lainnya seperti melawan iri, sombong, dan lain-lain). Karena dua sikap ini wajib dimiliki oleh pelaku tasawuf, maka mayoritas ahli tasawuf adalah fakir miskin yang hidup apa adanya. Yang membedakan ulama sufi dengan fakir miskin lain adalah sikap rela dengan keadaan. Hidup miskin tidak membuat mereka meminta-minta, tamak, atau serakah.

Berikut adalah biografi tiga ulama sufi yang hidup dalam kesulitan duniawi. Tiga ulama berikut hidup di tiga zaman yang berbeda. Semoga bisa diambil pelajaran.

Ma’ruf Al-Karkhi

Beliau bernama lengkap Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuzan. Dalam biografi (manakib) Ma’ruf al-Karkhi yang ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauzi dikatakan bahwa beliau berasal dari Karkhjadan, Irak. Oleh karena itu beliau disebut dengan Al-Karkhi.

Kedua orangtuanya beragama Nasrani. Saat kecil dia dititipkan kepada seorang guru dan dipaksa mengatakan bahwa Tuhan ada tiga. Namun dia menolak. Setelah beberapa saat, ia dan orangtuanya masuk Islam di tangan Ali bin Musa Al-Ridha.

Meskipun beliau dikenal sebagai seorang sufi yang sibuk beribadah, Ibnu Qayyim mencatat beliau juga sering sekali menghadiri majelis hadis. Bahkan Ibnu Qayyim merekam ada tujuh hadis yang diriwayatkan oleh Ma’ruf.

Mengenai kehidupannya yang serba susah, Ibnu Qayyim pernah menukil cerita berikut:

Suatu hari Ma’ruf datang ke penjual sayur dan berkata bahwa ia ingin sebuah makanan bernama bashaliyyah. Penjual sayur berkata, “Bashaliyyah tidak dijual di toko sayuran, wahai Syekh Agung. Bashaliyyah adalah makanan dari daging, susu, ubi, dan bawang. Kami tidak menjualnya.”

Ma’ruf lalu mengeluarkan beberapa uang dan berkata, “Kalau begitu tolong buatkan. Aku tunggu di masjid. Karena aku sama sekali tidak tahu dan tidak pernah makan bashaliyyah.” Padahal di masa itu makanan tersebut adalah makanan standar masyarakat.

Ma’ruf juga dikenal sebagai sufi yang selalu waspada dengan kehidupan. Dia selalu takut dengan angan-angan kehidupan yang berlebih (thulul amal). Menukil dari Hilyatul Awliya’, Ibnu Qayyim menulis bahwa suatu ketika Ma’ruf pernah buang air kecil di jamban yang ada di tepian Sungai Tigris. Namun setelah hajatnya selesai ia justru bertayamum. Salah seorang kawannya bertanya kenapa dia tidak istinjak dengan air padahal sungainya sangat dekat? Beliau menjawab, “Siapa yang menjamin aku masih hidup hingga aku sampai ke sungai itu?”

Imam Al-Nawawi

Imam Nawawi adalah ulama sufi yang hidup dalam kesempitan rizki. Namun demikian, sebagaimana mestinya seorang sufi, beliau selalu sabar menghadapinya. Beliau bernama lengkap Yahya bin Syarof. Beliau biasa dijuluki (alam kuniah) Abu Zakariyya (ayahnya Zakariyya) meskipun beliau sendiri tidak pernah menikah hingga meninggal.

Adanya julukan ini karena orang Arab memang biasa menjuluki seorang bernama Yahya dengan Abu Zakariyya, Umar dengan Abu Hafsh, atau Yusuf dengan Abu Ya’qub. Beliau lahir di Kota Nawa dan meninggal di Damaskus. Beberapa tahun yang lalu kita digegerkan oleh pengeboman makam Al-Nawawi oleh ISIS.

Ayahnya adalah pedagang sederhana dan an-Nawawi terbiasa membantu menjaga toko. Ayahnya berkata bahwa ketika berangkat haji bersama an-Nawawi, an-Nawawi terkena sakit panas hingga Hari Arafah. Namun demikian, an-Nawawi tidak pernah mengeluh sekalipun.

Pada usia remaja beliau datang ke kota Damaskus. Setelah tinggal di Jami’ Umawi untuk beberapa saat, beliau tinggal di Madrasah Rawahiyah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Aththar dalam kitabnya tentang biografi an-Nawawi, an-Nawawi tidak pernah membaringkan badannya selama dua tahun ketika baru sampai di sana.

Ibnu Aththar menulis bahwa an-Nawawi selalu berpuasa hingga akhir hayatnya. Beliau hanya sahur dengan segelas air putih, berbuka dengan tiga biji kurma, dan minum air segelas lagi saat tengah malam. Beliau hanya makan agak banyak saat ayahnya datang menjenguk beliau.
Beliau meninggal di Madrasah Asyrafiyah saat berusia 44 tahun di pangkuan ayahnya karena sakit yang sudah lama beliau simpan.

Asy-Sya’rani

Abdul Wahhab Asy-Sya’rani adalah seorang sufi luar biasa. Beliau adalah keturunan Sayyidina Ali dari jalur Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Sesuai pengakuan beliau dalam al-Minan (buku otobiografi beliau), beliau sudah hafal Alquran sejak usia tujuh tahun, hafal Jurumiyah, Alfiyah Ibn Malik dan Iraqi, Minhaj, Jam’ul Jawami’, dan banyak kitab-kitab pokok lain. Beliau hafal semuanya di luar kepala.

Beliau juga muthala’ah (membaca dan mengkaji) ratusan jilid kitab fikih semua mazhab, tafsir, tarikh, kamus, tasawuf, syarah hadis, dan lain-lain. Beberapa di antaranya beliau baca berulang-ulang hingga puluhan kali. Bahkan beliau sering menulis komentar di kertas khusus karena beliau tidak sanggup membeli kitab.

Sejak umur delapan tahun beliau tidak pernah meninggalkan salat secara sengaja kecuali sekali, yakni ketika beliau ke Hijaz dan lupa tidak niat jamak ta’khir. Sejak kecil beliau sudah terbiasa mengkhatamkan Alquran dalam sekali salat.

Beliau hidup sederhana di zawiyah-nya. Beliau seringkali diberi hadiah oleh pejabat terkemuka namun beliau tolak. Hidup sederhana ini sudah menjadi pilihan beliau. Bahkan suatu ketika beliau pernah hendak melamar seorang wanita, namun wanita tersebut memberinya syarat-syarat duniawi yang harus beliau penuhi. Akhirnya beliau mundur dan tidak jadi melamarnya karena tidak memiliki cukup harta. Namun akhirnya wanita itu terharu dan akhirnya menikah dengan beliau.

Demikianlah sedikit di antara banyak biografi ulama sufi zuhud yang bisa dijadikan teladan. Wallahu a’lam.

Sumber : https://alif.id/read/kholili-kholil/kisah-tiga-sufi-besar-yanag-miskin-b212750p/

Cerita tentang tiga orang tuli yang salah paham tengah bertengkar, dan mereka meminta pertolongan seorang sufi yang ternyata bisu.

Suatu ketika hidup seorang penggembala miskin di sebuah desa kecil. Tiap hari ia membawa domba-domba gembalaannya di sebuah padang rumput berbukit yang tak jauh dari rumahnya. Seorang gembala ini tuli sejak muda. Meskipun begitu, ia tak lagi menyesali pendengarannya yang rusak itu.

Pada suatu hari, saat menggembalakan domba-dombanya, istri si penggembala lupa mengirim bungkusan makanan. Makanan juga tidak diantar oleh anak si gembala hingga matahari terus bergerak tepat berada di atas kepala.

“Aku akan pulang mengambilnya,” pikir si penggembala.

Ia tiba-tiba melihat seseorang tak seberapa jauh sedang memotong rumput di pinggir bukit. Ia menghampirinya dan berkata,

“Saudaraku, tolong jaga domba-domba ini dan awasi jangan sampai ada yang berkeliaran hingga tersesat. Karena istriku ceroboh lupa mengirim makanan untukku, aku harus pulang mengambil makanan. Aku akan kembali segera.”

Pemotong rumput tersebut ternyata juga tuli. Ia tak mendengar apa pun yang penggembala itu katakan. Ia juga tak paham maksudnya, tapi ia berusaha menerka. Ia menjawab,

“Mengapa aku harus memberimu rumput yang kupotong sendiri untuk hewan piaraanku? Aku di rumah punya seekor sapi dan dua ekor kambing. Aku pergi jauh-jauh ke sini untuk mencari makan untuk hewan-hewanku itu. Sudahlah, menjauhlah dariku. Aku tidak mau berurusan dengan orang sepertimu yang ingin mengambil milikku yang sedikit ini.” Ia berkata begitu sembari menggerakkan tangannya.

Penggembala yang tidak mendengar apa pun yang dikatakan perumput menjawab,

“Oh, terima kasih teman atas kesediaanmu. Aku akan sesegera mungkin kembali. Semoga keselamatan dan berkah selalu menyertaimu. Engkau telah benar-benar meringankan tugasku.”

Ia segera berlari menuju rumah. Setelah tiba, ia mendapati istrinya sakit demam dan sedang dirawat para istri tetangga. Ia mengambil bungkusan makanan dan berlari kembali ke bukit. Dengan sigap ia segera menghitung domba-dombanya dengan cermat. Semuanya masih lengkap. Dalam hati ia bergumam,

“Sungguh mulia pribadi pemotong rumput itu. Ia benar-benar bisa dipercaya. Ia menjaga domba-dombaku dan tidak mengharap ucapan terima kasih dariku. Sungguh luar biasa. Aku akan memberi domba pincang ini. Toh, domba pincang ini memang awalnya mau kusembelih. Biar domba ini untuknya saja sebagai ungkapan terima kasihku. Ini akan menjadi makanan yang lezat untuk keluarganya.”

Sambil memanggul domba pincang di atas bahunya, Ia berlari mendekati pemotong rumput dan berteriak, “Hai, saudaraku, ini hadiah dariku karena engkau telah menjaga domba-dombaku. Istriku ternyata sedang sakit, makanya ia lupa mengirim. Terimalah domba ini untuk makan malam nanti.” Ia mengatakan itu sembari menunjukkan domba pincangnya.

“Dasar penggembala busuk! Aku tak melihat apa pun yang terjadi selama kamu pergi. Bagaimana kau menyuruh aku bertanggung jawab atas kaki pincang dombamu? Aku sibuk memotong rumput dan sama sekali tak tahu terkait kejadian yang menimpa kaki dombamu. Pergilah! Kalau kau mendekat, aku akan memukulmu!” jawab pemotong rumput dengan raut muka marah.

Sang penggembala heran kenapa pemotong rumput marah. Ia lalu berusaha memanggil seorang musafir penunggang kuda bagus yang kebetulan sedang melintas.

“Tolong katakan padaku apa yang diucapkan pemotong rumput ini! Aku ini tuli. Aku tidak mengerti kenapa ia menolak pemberianku berupa seekor domba ini dengan ekspresi kekesalan seperti tadi.”

Si penggembala dan pemotong rumput mulai sama-sama meneriaki si penunggang kuda. Penunggang kuda kemudian turun dari kudanya dan menghampiri keduanya. Sang musafir ini ternyata seorang pencuri kuda. Ia juga tuli seperti penggembala kuda maupun pemotong rumput. Ia tak mendengar apa pun yang dikatakan keduanya. Ia sebenarnya sedang tersesat dan bermaksud bertanya kepada mereka ia sedang berada di mana. Tapi, melihat sikap mengancam keduanya, ia berkata,

“Benar, benar, temanku! Aku memang barusan mencuri kuda. Aku mengakui. Tapi, aku tak tahu kalau ini milik kalian. Maafkan aku karena aku mudah tergoda dan tak berpikir panjang.”

“Aku tidak tahu apa-apa terhadap pincangnya domba ini!” teriak pemotong rumput.

“Suruh ia katakan padaku, mengapa ia menolak pemberianku!” desak si penggembala. “Aku hanya ingin memberikannya hadiah sebagai ucapan terima kasih!”

“Aku mengaku mengambil kuda,” ujar si pencuri, “tapi aku tuli dan aku tidak tahu siapa di antara kalian berdua pemilik kuda ini.”

Pada saat itu di kejauhan tampak seorang sufi tua sedang berjalan mendekat. Pemotong rumput segera menarik jubah sang darwis dan berkata,

“Tuan darwis yang mulia, aku orang tuli yang tak mengerti ujung pangkal apa yang dibicarakan dua orang ini. Aku memohon kebijaksanaan Anda, adili dan jelaskan tentang apa yang mereka teriakkan masing-masing.”

Namun, si darwis yang ternyata bisu itu tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya memandangi dengan penuh selidik ketiga orang tuli yang sekarang mulai menghentikan teriakan masing-masing. Ia memandangi ketiganya dengan tatapan tajam. Satu per satu. Hingga mereka mulai muncul rasa tak enak. Mata hitam si darwis menusuk tajam ke mata mereka bertiga bergantian, seolah berusaha keras mencari petunjuk kebenaran dari situasi ini.

Masing-masing orang tuli itu mulai takut dengan sorot mata si darwis, kalau-kalau ia akan menyihir mereka atau mengendalikan kemauan mereka. Tiba-tiba si pencuri melompat ke punggung kudanya dan segera memacu lari kudanya kencang-kencang. Begitu pula dengan si penggembala segera menggiring gembalaannya menjauh ke sebelah bukit. Si pemotong rumput yang dari tadi tidak berani menatap mata si darwis segera mengemasi hasil sabitan rumputnya ke dalam kantong dan mengangkatnya di bahu lalu berjalan menuruni bukit.

Sang darwis melanjutkan perjalanannya. Ia berpikir dalam hati, kadang-kadang kata-kata tak berfungsi apa-apa dan tidak terlalu berguna. Mungkin lebih baik orang tidak perlu banyak mengucapkannya!

Disadur dan dinukil dari The Way of Sufi karangan Idries Shah, ISF Publishing, London, 2015, hlm. 163-165.

Sumber : https://mojok.co/irf/esai/cerita-tiga-orang-tuli-dan-seorang-sufi-bisu/

Kegiatan

#Rebana
#Khitobah
#Ziarah
#Istighosah
#Mujahadah
#Ratibul Haddad
#Maulid Nabi Saw.
#Khotmil Qur`an

Categories

Infaq Ponpes


NO REK : 003801001814564
A/N : PONPES NURUL QURAN KANTOR CABANG KUDUS


Contact Admin

Pengasuh : 081-325-928-776
Kantor : 089-6232-63-636

Komentar Terbaru